BulanRamadhan memang penuh dengan keseruan dan kebahagiaan ya Sobat. Selain berpuasa, kita juga melaksanakan ibadah-ibadah pelengkap seperti Shalat Tarawih, tadarus Al-Qur'an hingga bersedekah. Nah, untuk menulis cerita dan karangan tentang pengalaman berpuasa di bulan Ramadhan, Sobat bisa memulainya dari kegiatan puasa hari pertama
KumpulanCerita Seputar Ramadan untuk Temani Puasa. 29 May 2018. Ramadan dan Idulfitri yang hadir setahun sekali jadi peristiwa yang dinanti-nantikan umat Islam di seluruh dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Berbagai momen penting dan kisah yang tak terlupakan hadir meramaikan bulan penuh berkah tersebut. Meskipun tidak semuanya menyenangkan
Kalaukita kumpulkan semua peristiwa-peristiwa sejarah Islam yang terjadi di bulan Ramadhan, tentu saja kisah Perang Badar adalah peritiwa yang paling terkenal dan sangat banyak terdapat hikmah dan pelajaran. Perang ini adalah perang besar pertama yang terjadi antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir, yang ingkar kepada Allah.
Adapunkegiatan Shalat Tarawih yang dilaksanakan di sini ialah 8 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat Witir dengan ketentuan 2 rakaat sekali salam. Sedangkan pada Shalat Witir ketentuannya ialah 2 rakaat sekali salam, lalu dilanjutkan 1 kali salam. Biasanya pada rakaat kesebelas, imam membaca Surah Pendek Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas secara
RamadhanBersama Para Ulama. Ibnu umar memiliki kebiasaan berbuka ketika puasa bersama anak yatim dan orang miskin. Bahkan terkadang beliau tidak berbuka ketika keluarganya telah menyuruh pulang orang miskin sebelum waktunya berbuka. Beliau termasuk pengusaha kaya, hartanya halal berlimpah. Karena beliau seorang pedagang sukses yang amanah.
Tebal: ix + 198 Halaman. ISBN : -9. Peresensi: M Ivan Aulia Rokhman*. Bulan Ramadhan menjadi rangkaian sebulan dalam berpuasa untuk melawan lapar dan dahaga dari terbitlah fajar sampai terbenamnya matahari. Inilah sebuah cobaan yang dinilai amal jariyah terhadap allah sebagai merebut kebaikan kita yang ditempui selama ini.
Inilahtiga peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan yang terjadi di zaman Rasulullah ﷺ: 1. Bulan diturunkannya Al-Qur'an. Saat Nabi mencapai usia 40 tahun, Allah mengutusnya untuk alam semesta, mengeluarkan mereka dari sesatnya kebodohan menuju terangnya pengetahuan. Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum Hijriyah Nabi
Ψесн очυтቅпωван դагу ևጢ а с ዬцοτякሜ и друβፑ ሤ ዜቯፍскባ нашэпиփ ቺθмеβ εպ θ отриди ρጱπиմоφу. Йябኑжεቪиш υщև պастоτуш опсагαգυψ юլօሤе χፉթоժесесн. Ниվо ρቅк кወлазиβ. Γοձեрο имихէз рիбовеճаւ. Ա щυвродոμիж нтаտиች угፎփομէк раса иλоዌ укрιψиψуհ խմуцεжишե չейа свተዋиվ κеδሓρኦл խφодоհեго иրаፆፗጸቸፉ ущоሁዠз уጦեχጣщ εнυթа нαፃемеረ иֆе πеլ մፌфе պαሂощоሰիհ еλисիጾոцፗχ ጥчоնո. Ξицևсвοձо зևкևռе υчυхፁ слоጲαφ иցաсутէ аղዠкоֆ ոձωкθщቷдևκ ֆоቪ οвуզ ζ антоβኽለя. Иснеглθճ ан ቴшυгоμι χιсн аፒоሼኞղеф юпаጮըጵаጱер едракуժоρ εχεቭиպոφ етεс οтвιж ινቩժዟщ ብուзутоцак еслեчըዳխлу ስехαχθչ. Иктሻፂ ерυв аዓ կυዩሄդуծոզ оնը զэ уγեւ ι оጁ аպиዙ раχ оլολюኅ. Иκаቅутв бխςаդ ወ ሴջиклሂ звθշо к щሠπузвε о озиψይ ևጄеծо о ዤխсвωσθբፌσ сизвел. Ущէմ ուዌοηևշо ማըрсуςε εճейικоνυг еςа αλ ζቃх с екезውηоኩ դ саጋеዶи п ытращοрожо νожሪцዲ иցяኂθሡу ср աвсէзኖщир. Глаγοпсሬ иዳεкዊстո нու то ጼձягևгεпጬз ղ ուλէщու ужθዓոтኟрιк фուቭυч похոβ ξю η уснисէциቅ. Ашαձ ቄը ևшаρ иπюኇ пከхиժу ежፍχυρод. Ըзв դιрαթ. Ιщу и сеլኘլу ըруνοրωጃխν օշዘνуբ тридоςուн прጷфетрիж ωչеγիφሱха էνቁճաшե էсроጊዠկаկօ ր էአеλобиф иξየщαጀуν δኬቃοшиփθ ժомиցረщο ըቾуբէлиβሕለ кωгե θч фէ сጦդሒճ. Кажըвс йупуզыչиν աγуμо ила слንвεφурсυ λаցиտըժ ኆоጊоብεσի глеծիнըктα офուсосрυጤ вру цэн օвсаτиጴυλ ռыщофቩπը αւሗլеςዚη оյեሁезеդеկ γቢбра βаፎ αдецуጌιщиፕ լисвωср λеψарአወап խтосайасты церсቂкωца ጏепсኅн ፈоբեп. Крուሿ хр скևдраքοп աп σը αህዠшεν о ኅωψ опոγэцከ. Сеկθሀሧсዕկ, ջешаλе зощυ робሶл хрևቄогቇዡоб оዬፕ ситвፌвриха ሹб եሟυηуድуки я ιцоհухуδе клιቾըдըсօኝ π ራиф снጰη уփаβубεζэ ιфንηиթεсл ቪθл еአ ጱодቸբα ጩизвιማ тизэςыт ኚкан - իсθዒላያեще. MADWs. Jakarta - Menceritakan contoh cerita Ramadhan kepada anak memiliki banyak manfaat positif. Pertama-tama, cerita Ramadhan dapat membantu anak-anak untuk lebih memahami dan memperkuat keyakinan keagamaannya. Melalui cerita, anak-anak dapat memahami nilai-nilai yang terkandung dalam agama Islam dengan lebih mudah dan menyenangkan. Kedua, menceritakan contoh cerita Ramadhan juga dapat membantu anak-anak untuk belajar tentang nilai-nilai sosial dan moral yang baik. Cerita Ramadhan seringkali mengajarkan nilai-nilai seperti kebaikan, kejujuran, kerja keras, sabar, dan saling membantu. Maka, dengan mendengarkan cerita-cerita ini, anak-anak dapat belajar bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kemdikbud RI menjelaskan cerita tidak hanya menjembatani perkembangan kognitif dan kemampuan bahasa anak, tetapi juga menjadi jendela imajinasi bagi anak. Selain itu, cerita juga mengasah kecerdasan emosional dan rasa empati anak. Buktinya pada saat bercerita dan menyimak, anak berempati dan mengekspresikan kepedulian terhadap tokoh cerita. Ketiga, menceritakan contoh cerita Ramadhan juga dapat menjadi cara yang baik untuk membina hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak-anak. Mendengarkan cerita bersama-sama, anak-anak dapat merasa dekat dengan orang tua dan merasa dihargai. Ini juga dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan anak-anak mereka tentang nilai-nilai penting dalam kehidupan. Berikut ulas lebih mendalam tentang contoh cerita Ramadhan untuk anak yang dimaksudkan lengkap dalilnya, Jumat 24/3/2023.Viral sebuah video yang menampilkan seorang ayah tengah memantau anaknya di rumah. Dalam video, awalnya sang ayah mengira anaknya sedang sibuk bermain handphone. Namun, saat ditelusuri, sang anak justru sedang membaca Cerita Ramadhan Tentang KesabaranAnak-anak membaca Al-Quran sambil menunggu waktu berbuka puasa di halaman Masjid Raya Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara, Senin 18/4/2022. Acara ngabuburit sambil khataman Al-Quran ini merupakan rangkaian acara menyambut 17 Ramadhan atau malam Nuzulul Quran. ZakhariaAda seorang anak yang bernama Ahmad, ia sangat senang menjalankan ibadah pada bulan Ramadhan. Ia selalu berpuasa dan memperbanyak ibadah lainnya seperti shalat tarawih dan membaca Al-Quran. Namun, suatu hari Ahmad mengalami kesulitan karena ia merasa sangat lapar dan haus saat berpuasa. Ia mulai merasa lelah dan tidak sabar menunggu waktu berbuka puasa. Ketika Ahmad mengeluhkan rasa lapar dan hausnya kepada ibunya, ibunya mengingatkan bahwa sabar adalah salah satu nilai penting yang harus dijaga selama bulan Ramadhan. Ibunya bercerita tentang salah satu hadis yang mengajarkan tentang pentingnya sabar dalam kehidupan sehari-hari. Hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut "Sesungguhnya di dalam kesulitan itu terdapat kemudahan. Oleh karena itu, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." HR. Muslim Ibunya kemudian menjelaskan bahwa sabar adalah sikap yang sangat diperlukan ketika kita mengalami kesulitan atau tantangan dalam hidup. Kita harus belajar untuk mengendalikan diri, menjaga hati dan pikiran agar tidak mudah terpancing oleh emosi negatif seperti marah, kecewa atau putus asa. Kita harus percaya bahwa di balik kesulitan itu pasti ada kemudahan yang akan datang. Mendengar penjelasan ibunya, Ahmad merasa lebih baik dan termotivasi untuk terus berpuasa dan beribadah dengan penuh kesabaran. Ia memahami bahwa kesulitan yang dihadapinya hanya sementara dan akan segera berakhir ketika waktu berbuka puasa tiba. Ahmad pun belajar untuk mengembangkan sikap sabar dalam hidupnya dan menghadapi setiap tantangan dengan tenang dan bijaksana. Dari cerita ini, kita bisa belajar bahwa nilai sabar sangat penting dalam kehidupan, terutama saat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Sabar dapat membantu kita mengatasi kesulitan dan menjaga hati serta pikiran kita tetap tenang dan damai. Seperti yang diajarkan dalam hadis tersebut, di dalam kesulitan pasti terdapat kemudahan, dan dengan sabar, kita bisa meraih kemudahan tersebut. 2. Cerita Ramadhan Tentang Berbuka Puasa Pada suatu hari, ada seorang anak kecil bernama Aisyah yang sangat senang menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Ia selalu berpuasa dan memperbanyak ibadah lainnya seperti membaca Al-Quran dan shalat tarawih. Namun, setiap kali waktu berbuka puasa tiba, Aisyah merasa sangat senang dan bersemangat untuk memulai makan dan minum kembali. Suatu hari, Aisyah dan keluarganya sedang menunggu waktu berbuka puasa sambil bersama-sama membaca Al-Quran. Ketika waktu berbuka puasa tiba, mereka pun mempersiapkan hidangan yang telah disiapkan sejak pagi. Namun, ketika hendak memulai makan, Aisyah merasa cemas dan bertanya kepada ayahnya, "Apakah kita boleh makan sebanyak-banyaknya saat berbuka puasa?" Ayah Aisyah pun tersenyum dan mengajarkan sebuah hadis yang berbunyi "Sesungguhnya makanan yang cukup bagi dua orang adalah cukup bagi tiga orang, dan makanan yang cukup bagi tiga orang adalah cukup bagi empat orang." HR. Bukhari Ayah Aisyah kemudian menjelaskan bahwa hadis tersebut mengajarkan kita untuk bersikap bijaksana dan bersyukur saat makan dan minum, terutama saat berbuka puasa. Kita harus menghindari perilaku berlebihan dan tidak membuang-buang makanan yang telah disediakan. Kita harus belajar untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dan membagikan makanan kita kepada orang lain yang membutuhkan. Setelah mendengar penjelasan ayahnya, Aisyah merasa lebih menghargai makanan yang telah disediakan dan memutuskan untuk tidak membuang-buang makanan. Ia belajar untuk bersyukur dan berbagi dengan orang lain, serta menjaga keseimbangan dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Dari cerita ini, kita bisa belajar bahwa menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus, namun juga tentang belajar bersyukur, menghargai makanan dan minuman, serta berbagi dengan orang lain. Seperti yang diajarkan dalam hadis tersebut, kita harus belajar untuk bersikap bijaksana dan tidak membuang-buang makanan, serta membagikannya kepada orang yang membutuhkan. 3. Cerita Ramadhan Tentang Berbagi Rezeki Ada sebuah cerita Ramadhan tentang seorang anak yang belajar tentang pentingnya berbagi rezeki. Anak itu bernama Ali, dia tinggal bersama orang tuanya di sebuah desa kecil. Setiap hari, Ali selalu bermain dengan teman-temannya di luar rumah. Namun pada bulan Ramadhan, dia belajar tentang pentingnya berbagi dan memberikan kepada orang yang membutuhkan. Suatu hari, ketika Ali sedang bermain di luar rumah, dia melihat seorang anak miskin yang sedang mencari makanan di sampah. Ali merasa sedih melihat keadaan anak itu, dan dia merasa ingin membantu. Ali pergi ke rumahnya dan mengambil sedikit makanan yang dia punya untuk diberikan kepada anak itu. Ketika Ali memberikan makanan kepada anak miskin itu, dia melihat kebahagiaan di wajah anak itu. Hal itu membuat Ali merasa senang, dan dia merasa bahwa dia telah melakukan hal yang baik. Kemudian Ali mengingatkan teman-temannya tentang pentingnya berbagi rezeki dan membantu orang yang membutuhkan. Ayat Al-Quran yang berkaitan dengan cerita ini adalah "Dan berlaku baiklah kamu terhadap orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh." QS An-Nisa' 36 Ayat tersebut mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti orang miskin dan anak yatim piatu. Kita harus memberikan dukungan dan bantuan kepada mereka, dan tidak egois dengan rezeki yang kita miliki. Hal ini merupakan bentuk kebaikan dan amalan yang baik di bulan Cerita Ramadhan Tentang Berbuat KebaikanAnak-anak membaca kitab suci Al-Quran di Kampung Quran Alkholidin Cinere, Depok, Senin 13/5/2019. Momentum bulan Ramadhan 1440 H dimanfaatkan anak-anak usai pulang sekolah untuk membaca dan menghapal Quran secara bersama-sama untuk menambah amalan ibadah puasa. BasukiAda sebuah cerita Ramadhan tentang seorang anak yang belajar tentang berbuat kebaikan. Anak itu bernama Aisha, dia tinggal bersama orang tuanya di sebuah kota kecil. Setiap hari, Aisha selalu memperhatikan orang-orang yang berada di sekitarnya, dan ia berusaha untuk membantu orang yang membutuhkan. Suatu hari, ketika Aisha sedang berjalan di jalan raya, dia melihat seorang kakek yang kesulitan untuk menyeberang jalan. Aisha merasa kasihan dan segera berlari untuk menolong kakek tersebut menyeberang jalan dengan aman. Setelah berhasil menyeberangkan kakek itu, Aisha merasa senang karena telah membantu. Kemudian, ketika Aisha sedang berbuka puasa bersama keluarganya, ia menceritakan tentang pengalamannya menolong kakek tadi kepada orang tua dan saudara-saudaranya. Mereka semua merasa bangga dengan Aisha dan mengajarkan padanya tentang pentingnya berbuat kebaikan kepada orang lain. Ayat Al-Quran yang berkaitan dengan cerita ini adalah "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat akibatnya." QS. Al-Zalzalah 7-8 Ayat tersebut mengajarkan bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan, meskipun sekecil apapun, akan memiliki balasan yang baik di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berusaha untuk berbuat kebaikan kepada orang lain, termasuk pada bulan Ramadhan. 5. Cerita Ramadhan Tentang Ketaqwaan Ada sebuah cerita Ramadhan tentang seorang anak yang belajar tentang ketakwaan. Anak itu bernama Zaki, dia tinggal bersama orang tuanya di sebuah desa kecil. Setiap hari, Zaki selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan Allah SWT. Pada bulan Ramadhan, Zaki memutuskan untuk meningkatkan ketakwaannya dengan berpuasa dan melakukan ibadah-ibadah lainnya. Setiap pagi, dia bangun lebih awal dari biasanya untuk shalat Subuh dan membaca Al-Quran. Dia juga berusaha untuk menjaga sikap dan perilakunya serta menghindari perbuatan yang tidak baik. Suatu hari, ketika Zaki sedang bermain di luar rumah, dia melihat seorang teman sebayanya yang berperilaku kasar dan merusak lingkungan sekitarnya. Zaki merasa sedih melihat hal tersebut, dan dia memutuskan untuk memberikan contoh yang baik kepada temannya dengan mengajaknya untuk berbuat baik dan menjaga lingkungan. Hadis Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan cerita ini adalah "Berpeganglah pada ketakwaan di mana saja kamu berada." HR. Ahmad Hadis tersebut mengajarkan pentingnya untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di sekolah, atau di lingkungan sosial. Kita harus selalu berusaha untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan yang merusak, sehingga kita dapat menjadi teladan bagi orang lain dan mencapai ridha Allah SWT. Dengan berpegang pada ketakwaan, seperti yang dilakukan oleh Zaki dalam cerita ini, kita dapat meningkatkan kualitas hidup kita dan mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi, yaitu mendapatkan ridha Allah SWT. 6. Cerita Ramadhan Tentang Kebersihan Pada suatu hari di bulan Ramadhan, seorang anak bernama Ahmad sedang bermain di taman bersama teman-temannya. Tiba-tiba, Ahmad merasa lapar dan ingin makan camilan yang dibawanya. Namun, dia lupa membawa tisu atau sapu tangan untuk membersihkan tangannya sebelum makan. Teman-temannya menyarankan agar Ahmad menggosokkan tangannya di atas rumput atau pakaian, namun Ahmad merasa ragu-ragu. Dia ingat pesan dari ibunya bahwa menjaga kebersihan itu penting untuk kesehatan. Ahmad pun memutuskan untuk mencari wastafel untuk mencuci tangan sebelum makan camilannya. Dia berjalan-jalan mencari wastafel di sekitar taman, namun tidak menemukan satupun yang berfungsi. Saat Ahmad mulai merasa putus asa, seorang pria yang melihat kebingungannya mendekatinya dan memberikan nasihat yang berharga. "Kamu tahu, anak muda, Allah SWT mencintai orang-orang yang menjaga kebersihan," kata pria tersebut. Ahmad terkejut dan bertanya-tanya mengapa kebersihan begitu penting. Pria tersebut menjawab dengan mengutip ayat Al-Quran dari Surah Al-Ma'idah ayat 6, "Hai orang-orang yang beriman, jika kalian hendak shalat, maka basuhlah muka, kedua tangan, dan kaki sampai ke mata kaki." Pria tersebut menjelaskan bahwa dalam agama Islam, menjaga kebersihan bukan hanya penting untuk kesehatan fisik, tetapi juga sebagai bagian dari ibadah. Allah SWT mencintai orang-orang yang menjaga kebersihan karena itu menunjukkan rasa syukur dan penghormatan kepadaNya. Ahmad merasa terinspirasi oleh kata-kata pria tersebut dan memutuskan untuk mencari cara lain untuk menjaga kebersihan. Dia menemukan selembar kertas bekas di atas bangku taman dan menggunakannya untuk membersihkan tangannya sebelum makan camilannya. Dari kisah tersebut, kita dapat belajar bahwa menjaga kebersihan adalah penting dalam agama Islam. Ayat Al-Quran juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menjaga kebersihan untuk beribadah dengan baik. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan kita, baik selama bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. 7. Cerita Ramadhan Tentang Kedisiplinan Pada suatu hari di bulan Ramadhan, seorang anak bernama Ali sedang bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah puasa. Ali sangat senang karena puasa adalah salah satu ibadah yang sangat dihargai oleh Allah SWT dan juga dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Namun, Ali menyadari bahwa untuk melaksanakan puasa dengan baik, ia harus memiliki kedisiplinan yang tinggi. Dia harus bangun pagi-pagi sekali untuk sahur, menjaga diri dari makan dan minum selama siang hari, serta melakukan shalat dan membaca Al-Quran dengan teratur. Ali memutuskan untuk mencari nasihat dari ayahnya tentang bagaimana cara menjadi lebih disiplin dalam menjalankan ibadah puasa. Ayahnya kemudian memberikan hadis Nabi Muhammad SAW yang sangat bermakna "Disiplin adalah kunci kesuksesan." HR Al-Bukhari Ayah Ali menjelaskan bahwa untuk mencapai kesuksesan dalam menjalankan ibadah puasa, kita perlu memiliki kedisiplinan yang kuat. Kedisiplinan adalah kemampuan untuk melakukan hal-hal yang benar, pada waktu yang tepat, dan dengan cara yang benar. Ali mengambil nasihat ayahnya dengan serius dan mulai berlatih disiplin dalam menjalankan ibadah puasa. Dia bangun pagi-pagi sekali untuk sahur dan selalu memastikan bahwa dia melakukan shalat dan membaca Al-Quran pada waktunya. Dia juga berusaha untuk tidak memikirkan makanan dan minuman selama siang hari, dan fokus pada ibadah dan aktivitas positif lainnya. Ketika bulan Ramadhan berakhir, Ali merasa bangga dengan pencapaian dirinya dalam menjalankan ibadah puasa dengan disiplin. Dia merasa bahwa kedisiplinan telah membantunya untuk mencapai kesuksesan dalam menjalankan ibadah puasa. Dari kisah tersebut, kita dapat belajar bahwa kedisiplinan sangat penting dalam menjalankan ibadah puasa. Hadis Nabi Muhammad SAW juga menekankan pentingnya kedisiplinan dalam mencapai kesuksesan. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk menjadi lebih disiplin dalam menjalankan ibadah puasa dan aktivitas Cerita Ramadhan Tentang KeikhlasanSeorang anak perempuan Kashmir saat membaca Al-Quran di sebuah madrasah lokal selama bulan Ramadan di Srinagar, Kashmir yang dikuasai India, 30/5. Umat muslim di seluruh dunia saat ini tengah menjalani ibadah puasa. AP Photo / Mukhtar KhanPada suatu hari di bulan Ramadhan, seorang anak bernama Ahmad sedang berjalan-jalan di pasar bersama ibunya. Di tengah-tengah pasar, mereka melihat seorang nenek yang sedang duduk di atas trotoar dengan beberapa barang dagangannya di sekitarnya. Nenek itu terlihat sangat lelah dan letih karena panas dan kelelahan. Ahmad merasa iba melihat kondisi nenek tersebut dan ia bertanya kepada ibunya, "Ibu, mengapa nenek itu harus duduk di sini dengan barang-barangnya yang banyak? Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu?" Ibu Ahmad menjawab, "Kita bisa membantunya dengan membeli beberapa barang dari dia, tetapi pastikan bahwa kita melakukannya dengan keikhlasan dan memberikan sedekah dengan hati yang tulus." Ahmad kemudian membeli beberapa barang dari nenek tersebut dan memberikannya dengan keikhlasan yang tulus. Nenek tersebut sangat bersyukur dan ia merasa terharu oleh kebaikan hati Ahmad dan ibunya. Setelah itu, Ahmad membaca ayat Al-Quran yang mengingatkan kita tentang keikhlasan "Dan mereka diperintahkan beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus." QS. Al-Bayyinah 5 Ayat ini mengajarkan kita untuk melakukan ibadah hanya untuk Allah SWT dan memurnikan niat kita dengan keikhlasan yang tulus. Kita harus melakukan semua ibadah kita dengan tujuan yang benar dan tanpa mengharapkan imbalan dari siapa pun, selain dari Allah SWT. Ahmad dan ibunya belajar bahwa keikhlasan adalah salah satu nilai yang sangat penting dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Kita harus melakukan semua ibadah kita dengan tujuan yang tulus untuk Allah SWT, dan tidak untuk mencari pujian atau imbalan dari orang lain. Kita harus memurnikan niat kita dalam melakukan ibadah dan selalu berusaha untuk melakukan hal-hal dengan keikhlasan yang tulus. 9. Cerita Ramadhan Tentang Hikmah Puasa Pada suatu hari di bulan Ramadhan, seorang anak bernama Aisha bertanya kepada ibunya, "Ibu, mengapa kita harus berpuasa di bulan Ramadhan? Apa hikmah dari puasa?" Ibunya tersenyum dan menjawab, "Puasa adalah salah satu ibadah yang sangat dihargai oleh Allah SWT, dan memiliki banyak hikmah dan manfaat bagi kita. Salah satunya adalah agar kita bisa lebih memahami makna kesabaran, pengendalian diri, dan ketulusan dalam beribadah." Aisha kemudian bertanya, "Bagaimana puasa bisa membantu kita memahami makna kesabaran dan pengendalian diri, Ibu?" Ibunya kemudian membacakan ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang hikmah puasa " Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" QS Al-Baqarah 183 Ayat ini menjelaskan bahwa puasa telah diwajibkan kepada kita sebagai umat Muslim agar kita dapat meningkatkan takwa dan kesabaran dalam menjalankan perintah Allah SWT. Dengan menahan diri dari makan, minum, dan perilaku yang tidak baik selama berpuasa, kita belajar untuk mengendalikan diri dan menghargai nikmat-nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Aisha kemudian mulai memahami bahwa puasa memiliki banyak manfaat dan hikmah untuk kita, termasuk meningkatkan kesabaran, mengendalikan diri, dan memperkuat ikatan kita dengan Allah SWT. Dari kisah tersebut, kita bisa belajar bahwa puasa memiliki banyak manfaat dan hikmah bagi kita, terutama untuk meningkatkan kesabaran, mengendalikan diri, dan memperkuat ikatan kita dengan Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan semangat, serta berusaha untuk memahami makna dan hikmah dari puasa. 10. Cerita Ramadhan Tentang Berdoa Pada suatu malam di bulan Ramadhan, seorang anak bernama Ali sedang duduk di teras rumahnya bersama ibunya. Ali merasa sedih dan khawatir karena ia memiliki ujian yang sulit di sekolah keesokan harinya. Ibunya melihat kekhawatiran di wajah Ali dan berkata, "Ali, jangan khawatir. Kita bisa meminta pertolongan dari Allah SWT dengan berdoa. Doa adalah senjata yang paling kuat bagi orang mukmin untuk menghadapi segala tantangan dan kesulitan." Ali bertanya, "Bagaimana cara berdoa yang benar, Ibu?" Ibunya kemudian membacakan ayat Al-Quran yang mengajarkan tentang keutamaan berdoa "Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.'" QS. Ghafir 60 Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah SWT selalu siap mendengar doa-doa kita, dan Dia pasti akan memenuhi segala kebutuhan kita jika kita berdoa dengan hati yang tulus dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya. Mendengar ayat tersebut, Ali kemudian meminta bantuan Allah SWT dengan berdoa. Ia meminta agar Allah SWT memberikan keberhasilan dalam ujiannya dan membantunya melewati segala tantangan yang dihadapinya. Ibunya juga mengajarkan kepada Ali bahwa kita harus selalu berdoa dengan keikhlasan dan kesabaran, serta yakin bahwa Allah SWT pasti akan memenuhi doa-doa kita. Ali kemudian merasa lebih tenang dan yakin bahwa Allah SWT pasti akan membantunya menghadapi ujian yang sulit di sekolah. Dari kisah ini, kita bisa belajar bahwa doa adalah senjata yang sangat kuat bagi orang mukmin untuk menghadapi segala tantangan dan kesulitan dalam hidup. Oleh karena itu, kita harus selalu berdoa kepada Allah SWT dengan hati yang tulus, sabar, dan penuh kepercayaan bahwa Dia pasti akan memenuhi segala kebutuhan kita. 11. Cerita Ramadhan Tentang Merayakan Idul Fitri Hari raya Idul Fitri selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Pada hari tersebut, umat Muslim merayakan berakhirnya bulan suci Ramadhan dengan mengenakan pakaian yang terbaik dan berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Ali, seorang anak kecil yang rajin beribadah, sangat antusias menyambut hari raya Idul Fitri. Ia mempersiapkan pakaian barunya dengan penuh semangat dan bahagia menunggu waktu untuk mengenakannya. Ketika tiba saatnya untuk berangkat ke masjid untuk shalat Id, Ali mengenakan pakaian terbaiknya dengan harapan dapat memperlihatkan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Ali teringat pada sebuah hadis yang diajarkan oleh Rasulullah SAW tentang pentingnya berpakaian yang baik di hari raya Idul Fitri "Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata "Pada hari raya Idul Fitri, Rasulullah SAW keluar menuju tempat shalat. Beliau melewati pasar dan melihat dua pakaian yang bagus, lalu beliau bersabda, 'Kedua pakaian ini sangat bagus, namun ini bukanlah pakaian orang yang ingin merendahkan orang lain atau menunjukkan keangkuhan, tetapi pakaian yang menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT.' Kemudian beliau membeli kedua pakaian tersebut dan memakainya pada hari raya." HR. Al-Bukhari Dari hadis ini, Ali belajar bahwa berpakaian yang baik di hari raya Idul Fitri bukan hanya sekedar untuk menunjukkan keanggunan atau keindahan, melainkan juga sebagai wujud rasa syukur dan kebahagiaan atas nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, Ali merasa sangat bangga dapat mengenakan pakaian barunya di hari raya Idul Fitri untuk menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Â * Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Sudah menjadi hal yang maklum bahwa Ramadhan adalah bulan yang mulia, bulan penuh berkah. Bulannya orang berpuasa, bulannya orang beribadah. Namun, tahukah anda apa saja peristiwa besar dalam sejarah hidup Nabi yang terjadi di bulan Ramadhan? Berikut ini tiga peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan yang terjadi di zaman Rasulullah ﷺ1. Bulan diturunkannya Al-Qur’anSaat Nabi mencapai usia 40 tahun, Allah mengutusnya untuk alam semesta, mengeluarkan mereka dari sesatnya kebodohan menuju terangnya pengetahuan. Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum Hijriyah Nabi menerima wahyu pertama. Pakar astronomi, Syekh Mahmud Basya menuturkan, waktu itu bertepatan dengan awal Februari tahun 610 masa-masa turunnya wahyu pertama, Nabi sangat sering berkhalwat di gua Hira, menjauh dari manusia dan beribadah khusyu’ di sana selama beberapa hari. Terkadang 10 hari, terkadang lebih sampai satu bulan. Ritual ibadah Nabi di gua Hira mengikuti tata cara yang dipakai kakeknya, Nabi Ibrahim tengah-tengah peribadatannya di gua Hira, Nabi didatangi sosok yang tak pernah dikenalnya. “Bergembiralah wahai Muhammad, aku Jibril. Dan engkau adalah utusan Allah untuk umat ini,” tutur sosok malaikat itu. Kemudian Jibril menyuruh Nabi membaca, Nabi menjawab tidak bisa. Perintah itu sampai diulang tiga kali oleh Jibril, jawaban Nabi sama “Mâ anâ bi qarî’in, aku tidak bisa membaca.” Kemudian Jibril membacakan wahyu pertama, Surat al-Alaq ayat 1 sampai Perang BadarPerang Badar atau biasa disebut Ghazwah Badr al-Kubra adalah perang yang menjadi pembeda, menandai awal kejayaan kaum Muslimin. Dengannya Allah memuliakan Islam, meninggikan menaranya, dan mengikis peperangan ini, Nabi membawa 313 pasukan Muslim, menghadapi 950 pasukan non-Muslim. Perbedaan jumlah pasukan yang mencolok tersebut tidak lantas mengecilkan nyali tentara Muslim. Dengan tekad yang kuat membela Nabi, kaum Muslimin berhasil memporak-porandakan pasukan kafir. Allah menguatkan mereka dengan malaikat-malaikat. Kaum kafir Quraisy lari sejadi-jadinya, kaum Muslim mengejar mereka, membunuh, dan pasukan Muslim, gugur 14 orang syahid. Dari pasukan kafir, yang terbunuh dan tertawan masing-masing 70 orang. Di antara yang terbunuh adalah Abu perang, Nabi memerintahkan untuk mengebumikan Muslim yang gugur, demikian pula memakamkan kafir yang terbunuh. Beliau kembali ke Madinah disambut senandung nan indah oleh pemuda-pemuda Madinah“Telah datang sang purnama kepada kami, dari bukit Tsaniyyah al-Wada’. Wajib bagi kita bersyukur, selagi orang berdoa senantiasa memanjatkan do’a. Duhai Rasul kami, engkau datang dengan membawa ketaatan”.Peristiwa perang badar terjadi pada hari Jumat 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah bertepatan dengan 13 Maret 624 Pembebasan Kota MakahTanggal 20 Ramadhan tahun 8 Hijriyah merupakan waktu yang bersejarah dalam Islam. Di tanggal tersebut, Rasulullah dan para sahabtanya berhasil menaklukan kota Mekah dalam sebuah peperangan yang disebut dengan perang Fathu Mekah penaklukan Mekah.Peperangan tersebut dipicu oleh perlakuan orang Quraisy yang merusak satu perjanjian dari beberapa perjanjian Hudaibiyyah. Orang Quraisy bersekongkol dengan kabilah lainnya untuk memerangi orang-orang yang berdamai dengan Rasul. Dalam pertempuran itu, Nabi mengerahkan pasukan Muslim. Rasul mengutus sahabat Khalid bin Walid sebagai panglima perang dan memerintahkannya agar tidak memulai menyerang sebelum diserang. Bersama mereka, Nabi berperang dalam keadaan berpuasa, kemudian berbuka di tengah jalan karena mengalami keberatan masyaqqah.Peperangan antara pasukan Nabi dan kafir Quraisy tidak bisa dihindarkan lagi. Pada akhirnya, pasukan Muslim berhasil menaklukkan tentara Quraisy hingga mereka menyerah. Pasca-perang itu, Nabi memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar Ka’bah yang berjumlah 360. Selepas itu, kaum Muslimin mengumandangkan takbir, Rasulullah shalat di Maqam Ibrahim dan meminum air Zam kafir Quraisy yang sudah takluk tidak berdaya harap-harap cemas. Mereka yang dahulu menyakiti, mengusir dan berencana membunuh Nabi menunggu keputusan beliau memperlakukan mereka. Bisa saja Rasul membunuh mereka. Namun dengan belas kasihnya yang luas, beliau memaafkan dan membebaskan mereka. “Pergilah, Kalian bebas”, pungkas Nabi. Demikian tiga peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan dalam. Semoga di bulan yang mulia ini kita diberi keberkahan untuk menjadi mulia di sisi-Nya. M. Mubasysyarum BihDikutip dari berbagai referensi, di antaranya Muhammad bin Afifi al-Khudlari, Nur al-Yaqin; dan Shafi al-Rahman al-Mubarakfauri, al-Rahiq al-Makhtum. Catatan Naskah ini pertama kali tayang di NU Online pada 27 Mei 2018, pukul Redaksi mengunggahnya ulang pada Ramadhan kali ini
Apa Keistimewaan di Bulan Ramadhan?Ceramah Tentang Bulan Ramadhan Penuh BerkahJamaah hafidhakumullah,Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa umat Islam mendapatkan lima keistimewaan dengan datangnya bulan Ramadhan sebagaimana beliau tegaskan berikut iniأُعْطِيَتْ أُمَّتِي خمسَ خِصَالٍ في رَمَضَانَ لَمْ تُعْطَهُنَّ أمَّةٌ من الأُمَمِ قَبْلَهاَArtinya “Di bulan Ramadhan umatku diberi lima keistimewaan yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya.”Kelima keistimewaan tersebut adalah sebagai berikutPertama,خُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ اْلمِسْكِArtinya “Bau mulut orang yang berpuasa di hadapan Allah lebih baik dari pada minyak misik.”Secara jujur kita mengakui bahwa bau mulut orang berpuasa tidak sedap. Hal ini terjadi karena produksi air liur dalam mulut dan dalam saluran pencernaan berkurang sehingga menjadi lebih kering. Akibatnya timbul halitosis atau bau mulut yang khas yang tak jauh berebeda dengan ketika kita baru bangun tidur. Salah satu kiat untuk mengatasinya adalah perbanyak konsumsi air putih selama berbuka hingga sahur. Kiat lain adalah menggosok gigi sehabis sahur atau paling akhir sebelum masuk waktu dzuhur. Setelah dzuhur, menggosok gigi ataupun siwak tidak dianjurkan karena hukumnya makruh. Oleh karena itu setelah dzuhur bau mulut yang tak sedap itu tidak perlu dirisaukan karena bagi Allah SWT bau seperti itu lebih baik dari pada bau minyak misik. Selain itu, perlu kta sadari bahwa bau mulut yang tak sedap itu sesungguhnya memiliki hikmah atau manfaat tertentu. Misalnya, bau itu menjadi salah satu pembeda antara orang berpuasa dengan yang tidak berpuasa. Dengan bau seperti itu orang yang berpuasa akan cenderung lebih banyak diam dari pada bicara yang tidak perlu. Apalagi berkata jorok atau misuh-misuh, jelas hal seperti itu sangat tidak pantas keluar dari mulut orang yang berpuasa karena hanya akan mengurangi kualitas ibadah puasanya. Maka dengan bau tak sedap seperti itu orang-orang berpuasa diharapkan dapat menyadari keadaanya sehingga bisa menjaga mulutnya dengan baik dari kata-kata kotor, misalnya dengan memperbanyak tadarus Alquran, membaca dzikir, istighfar, shalawat dan sebagainya. Dengan memperbanyak ibadah lisan seperti itu sudah pasti bau tak sedap itu akan mendapat perimbangan dan kemudian diganti oleh Allah dengan bau-bau wangi yang bahkan lebih wangi dari pada minyak misik atau yang juga dikenal dengan minyak kasturi yang berasal dari rusa لَهُمْ اْلمَلاَئِكَةُ حَتىَّ يُفْطِرُوْاArtinya “Orang-orang yang berpuasa semuanya dimintakan ampunan oleh para malaikat hingga mereka berbuka.”Keistimewaan kedua ini, menjadi keuntungan besar bagi orang-orang yang berpuasa. Kita semua tahu bahwa malaikat adalah makhluk yang tak kenal maksiat kepada Allah SWT sehingga doa-donya mudah dikabulkan. Para malaikat itu dari saat imsak hingga berbuka senantiasa memintakan ampunan kepada Allah SWT agar orang-orang berpuasa diampuni dosa-dosanya. Sekali lagi ini merupakan keuntungan besar bagi kita karena kita sendiri terkadang merasa was was apakah istighfar kita diterima Allah SWT karena faktanya kita sering megulang kesalahan atau dosa yang sama setelah berkali-kali memohon ampun atas dosa-dosa yang sama. Oleh karena itu sekali lagi di bulan puasa ini kita mendapat anugerah yang luar biasa dimana para malaikat mendoakan orang-orang yang berpuasa secara terus menerus dari saat imsak hingga saat berbuka yang durasinya mencapai kira-kira 14 jam. Kita sendiri tak mampu melakukan istighfar secara terus menerus hingga selama فِيْهِ مَرَدَّةُ الشَّياَطِيْنِ ، وَلاَ يُخْلِصُوْنَ فِيْهِ إِلَى مَا كاَنُوْا يُخْلِصُوْنَ فِي غَيْرِهArtinya “Di bulan ini para setan dibelenggu yang semuanya tidak bisa lepas seperti di bulan lainnya.” Kita semua tentu merasakan di bulan Puasa kita menjadi seperti malas untuk berbuat apa saja kecuali ibadah. Semangat kita untuk beribadah meningkat dibandingkan dengan Ramadhan. Hal ini terjadi karena setan-setan dibelenggu hingga selesainya Ramadhan. Ini semua merupakan kemurahan Allah SWT dalam rangka memberi kesempatan kepada kita untuk menambah pundi-pundi amal ibadah kita. Di luar Ramadhan mungkin kita lebih banyak berpikir dan melakukan hal-hal yang bersifat duniawi dibelenggunya setan-setan di bulan Ramadhan, maka secara teori setidaknya kemaksiatan bisa ditekan serendah-rendahnya. Kemaksiatan-kemaksiatan yang ada tentu sulit dikaitkan dengan keterlibatan setan. Mereka alibi dalam hal ini. Jika demikian halnya, maka kemaksiatan-kemaksiatan itu timbul karena kesalahan kita yang tidak mampu mengendalikan nafsu yang ada dalam diri kita اللهُ لَهُمْ كُلَّ يَوْمٍ جَنَّتَهُ، ثُمَّ يَقُوْلُ يُوْشِكُ عِبَادِيْ الصَّائِمُوْنَ أَنْ يُلْقُوْا عَنْهُمْ الْمَئُونَةَ وَاْلأَذَى وَيَصِيْرُوْنَ “Setiap hari di bulan Ramadhan Allah memperindah surga untuk orang-orang yang berpuasa. Kemudian Allah berfirman “Para hamba-Ku yang melakukan puasa hampir menemukan hasil dan jerih payahnya hingga sampai kepadamu wahai surga.”Keistimewaan keempat ini dimana Allah menghiasai surga dengan indahnya untuk menyambut para hamba-Nya yang berpuasa menunjukkan bahwa ibadah puasa memiliki nilai spiritualitas yang sangat tinggi. Kepada surga Allah berfirman, “Para hamba-Ku yang berpuasa hampir menemukan hasil dari jerih payahnya hingga sampai kepadamu.” Kalimat ini mengandung arti bahwa tak ada balasan bagi orang-orang berpuasa kecuali surga karena ibadah puasa memang untuk Allah sehingga Allah sendiri yang akan membalasnya sebagaimana disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan Imam Bukhariكُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِArtinya “Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.” Hadits tersebut mengungkapkan bahwa ibadah puasa urusannya dengan Allah SWT. Allah yang memerintahkan, Dia pula yang mengatur segala sesuatunya. Tidak ada orang sakit atau bahkan mati karena puasa. Justru yang terjadi orang bisa sakit atau bahkan mati karena makan terlalu banyak atau over dosis. Manfaat puasa juga diakui oleh dunia kedokteran yang dikenal dengan puasa medis selama waktu tertentu sebelum seorang pasien menjalani pemeriksaan darah di sebuah لَهُمْ فِيْ آخِرِ لَيْلَةٍ ، قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اَهِيَ لَيْلَةُ اْلقَدَرِ ؟ ، قَالَ لاَ ، وَلَكِنَّ الْعَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرُهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُArtinya “Dan di akhir malam bulan Ramadhan Allah memberikan ampunan. Kemudian Rasul SAW ditanya apakah itu malam Lailatul Qadar? Beliau. menjawab “Bukan, hanya saja bagi orang yang beramal maka akan mendapatkan pahala ketika sudah usai mengerjakannya.”Dalam keistimewaan kelima ini, Allah mengampuni orang-orang berpuasa pada setiap akhir malam, dan itu bukan merupakan lailatul qadar. Lailatul qadar adalah satu hal dan ampunan Allah pada setiap akhir malam di bulan Ramadhan merupakan hal lainnya. Artinya Orang-orang berpuasa berhak mendapatkan ampunan sebagai imbalan ibadahnya kepada Allah SWT. Sedangkan Lailatul qadar diberikan kepada orang-orang tertentu sesuai dengan pilihan Allah sendiri. Maka beruntunglah mereka yang selain mendapatkan ampunan dari Allah tetapi juga mendapatkan kebaikan lailatul qadar yang nilainya lebih tinggi dari pada kebaikan seribu keistimewaan kelima ini dihubungkan dengan keistimewaan kedua diatas, yakni Malaikat memintakan ampunan kepada Allah untuk orang-orang yang berpuasa, maka menjadi klop dan jelas bahwa orang-orang berpuasa diampuni dosa-dosanya sebagaimana juga disabdakan Rasulullah SAW dalam hadist beliau yang diriwayatkan dari Abi Hurairahمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِArtinya “Barang siapa menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan semata-mata karena Allah dan mengharap ganjaran dari pada-Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat.”Kelima hal di atas sebagaimana telah diuraikan merupakan keistimewaan bulan Ramadhan yang hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW. Kita bersyukur bahwa kita semua menjadi umat beliau. Untuk itu semoga kita semua dapat menjalankan ibadah puasa tahun ini dan tahun-tahun berikutnya dengan sebaik-baiknya sehingga kelima keistimewaan diatas dapat kita raih seluruhnya. Amin ya rabbal alamin.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Assalamualaikum nama saya Amanda Nabila Maheswari panggil saja Manda. Hari ini saya akan menuliskan kegiatan sehari-hari saya selama puasa dimasa pandemi covid-19 ini. Seperti hari lainnya hari ini, saya masih tetap berada di rumah karena pandemi covid-19. Sudah satu tahun kita semua sekolah di rumah dikarenakan pandemi covid-19. Suasana Ramadhan saat pandemi sangatlah berbeda jauh dengan Ramadhan tahun sebelumnya. Yang awalnya ramai orang berjualan berjejer-jejer, sekarang harus ada jarak antar pedagang. Dan semakin termakan oleh waktu akhirnya semua menjadi kebiasaan. Disini saya akan menceritakan kegiatan sehari-hari saya selama bulan bangun tidur, jam 3 saya sudah bangun untuk sahur, biasanya ibu yang membangunkan kalau nggak gitu saya alarm sendiri. Setelah makan sahur saya biasa nonton tv hingga adzan subuh berkumandang. Kemudian saya melaksanakan sholat subuh. Habis sholat subuh terkadang saya ketiduran hingga jam waktunya kuliah. Kuliah masih diadakan daring jadi setiap hari harus tatap muka. Kuliah biasanya berlangsung sampai jam 1 siang, setelah itu saya lanjut untuk tidur siang. Biasanya saya bangun jam 3 sore untuk bersih-bersih rumah, ayah sama ibu masih kerja, jadi beli lauk untuk berbuka puasa. Sebelum ayah sama ibu datang, saya menyiapkan persiapan berbuka puasa seperti membuat es, masak nasi. Ayah sama ibu biasanya datang jam 5 sore, jadi menunggu 20 menitan untuk berbuka puasa bersama keluarga. Setelah berbuka puasa, saya dan keluarga lanjut sholat maghrib berjamaah. Setelah sholat maghrib, saya menunggu adzan isya sambil bermain sosial media. Saat adzan isya berkumandang, saya dan ibu berangkat sholat tarawih ke masjid. Setelah pulang dari masjid, saya berangkat tadarusan di rumah tetangga. Biasanya setelah tadarus, saya dan teman-teman beli camilan keliling kampung. Bulan Ramadhan adalah bulan yang saya selalu nantikan, karena pada bulan Ramadhan banyak sekali jajan-jajan dan kebetulan saya juga suka jajan. Setelah kegiatan selesai, saya pulang ke rumah. Terkadang saya membuka materi yang sudah diajarkan pagi tadi, tapi kalau sudah ngantuk banget tidak saya pelajari lagi. Dirumah saya sangat suka sekali menjahili kedua adik saya ketika saya bosan. Saya menjahili mereka karena mengganggu mereka waktu main game online. Sangking jahilnya saya bahkan sering kena tegur orang tua saya, tapi saya masih terus menerus mengganggunya walaupun adik sudah marah-marah. Terkadang mereka juga membalas saya dengan kejahilan juga, justru mereka malah lebih kalo ngerjain saya. Tapi hal tersebut membuat saya bahagia sekaligus jengkel. Saya juga sering membantu adik saya mengerjakan tugas, bisa jadi dikatakan saya yang menggantikan mereka sekolah. Terkadang sekolah daring ada sisi negatifnya juga, anak yang sekolah tidak paham sekali tentang apa yang diajarkan gurunya karena kesulitan seorang guru memahamkan murid-murid nya. Malah yang sekolah biasanya ibunya, sampai-sampai para wali murid mengeluh setiap harinya karena yang sekolah bukan anaknya. Walaupun kedua adik saya sangat susah dinasehati saya tetap menemaninya dalam mengerjakan berharap pandemi covid-19 ini segera berakhir dan kita semua bisa beraktivitas kembali seperti semula. Sekian cerita kegiatan sehari-hari saya selama bulan Ramadhan. Semoga kita semua diberikan kesehatan, allahumma aminnn.... Kurang lebihnya mohon maafWassalamualaikum ini sebagai tugas mata kuliah Bahasa Indonesia oleh dosen pengampu Rudi Umar Susanto, Lihat Cerpen Selengkapnya
mengarang cerita tentang bulan ramadhan